Cerita Tenlit - Lorong Pena

Adera Nusa 26 September 2024 08:22:18 WIB

Lorong Pena

Karya : Ei_Shaa_

"Terkadang itu terlintas di pikiranku dan sangat menggangguku." ujar Aura kembali merasakan apa yang mempengaruhi pikirannya.

"Kau harus menghentikannya, aku tidak mau itu berjalan serupa denganmu." Sesal ibunya sembari menghela napas kecil. Tangan kecil dan mulai keriput itu justru yang lebih berat dalam lautan pikiran Aura saat ini.

"Benar kata ibumu, kita semua merasakannya. Jadi jangan pendam perasaan itu dan harapan kami untukmu, jangan pernah lupakan nasehat ibumu." Aura hanya memberi anggukan ringan pada kalimat Ayahnya sebelum akhirnya ia menyantap sayur dan segala makanan di hadapannya.

Sedang kedua orang tuanya mengulum senyum tipis. Meski bukan kali pertama mereka merasakan Aura menurut dan bersikap baik. Tapi ketenangan yang meyakinkan merka bahwa Aura sudah menerima apa adanya. Meskipun kalimat itu hanya sebagai penenang semata, melihat anak mereka yang sudah tumbuh dengan baik membuat hati kecilnya menjadi bangga.

Seperti biasa, malam mengisahkan pilu bagi Aura yang kini tengah merindu. Sosok lelaki yang dulu sering bersamanya, kini pergi tanpa suara. Entah kesalahan apa yang sedang diperbuatnya hingga kini dirinya merasa terluka, amat terluka. Setiap kali ia menatap foto kecil yang tersimpan rapi di balik lembaran buku tebal dengan tulisan rapi dan belum pernah terselesaikan itu membuatnya semakin merasa hancur.

Bukan dirinya tak mau mencari tahu. Tapi memang tidak ada yang tahu sejauh yang bisa dia lakukan.

Hingga mentari menemukan langit biru. Kini langkahnya harus beradu pada pahitnya kenyataan baru. Yang dikira hanya nomor sang penipu. Kini mulai menampakkan dirinya yang baru.

Untuk mempercayainya, Aura memerlukan waktu yang lama. Bukan hanya sebuah cerita belaka tapi memang itu adalah kisah nyata sebelum ia berpisah dengan sang permata, kakaknya.

Entah mana yang ia duga, tapi secangkir kopi yang kian rutin diminumnya kembali muncul membuatnya kembali mengenang luka. Langkahnya memang tidak seberapa, tapi lukanya yang luar biasa. Aura marah pada siapa, sedang yang menderita hanya dirinya.

Pandangannya lantas dibuang keluar jendela. Banyak manusia dalam ruangan ini yang membuatnya tak lagi menikmati kopi penuh memorinya. Ia lantas mengenakan ear phone, sekedar menjauhi riuhnya dunia.

 

bersambung,,,

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

PELADI MAKARTI

PENDATAAN PELAKU USAHA/ UMKM DI KALURAHAN PUTAT