CERITA TENLIT —Jas, Waktu, dan Dirimu

Adera Nusa 23 Agustus 2024 21:12:39 WIB

Waktu, Jas, dan Dirimu

Ei_Shaaa_

Bagian 5

 

Lumuran tanah yang basah masih menempel lekat di area kakinya. Bahkan tidak ada warga yang berani mendekati rumahnya hanya karena terlihat lebih mistis dari sebelumnya. Tidak ada yang menyadari anak itu hidup dalam rumah yang gelap gulita setiap hari. 

Lentera yang kini berhasil menemaninya dalam gelap malam menjadi teman sejatinya tanpa menaruh luka. Tangisan tak tertahan dari netranya yang kian meredup sendu membawa kisah getir yang semakin meluap. 

Hidupnya dulu yang begitu banyak rindu dengan sang kakak yang jelas berjalan dalam meraih mimpinya kini harus berhenti dengan tangan kosong. Tidak ada lagi yang bisa diharap hanya dengan sebuah almamater yang telah lama tidak dirawat tersebut. 

*****



Sepuluh hari setelah Yosianto kembali dari ibu kota. Ia kembali pada desa kecil yang memberinya makna hidup. Cukup bagus, tidak muluk dalam pikirannya. Ia hidup dengan penuh syukur dan menjalani segala situasi dengan bangga. Tidak akan ada harganya situasi yang dirasakannya saat ini tanpa syukur. Yosianto sangat menyadarinya. Banyak hal yang telah dilaluinya hingga saat ini, tapi ini yang paling memberi segala bentuk dalam kehdiupannya. 

 

Seorang anak kecil yang hidup dengan rasa yang bangga terhadap kakaknya yang telah tiada. Anak itu telah banyak makan asam garam kehidupan tanpa seorang pun yang ada di sampingnya. Tatkala anka lain pada meminta perhatian pada keluarganya, tidak dengan anak yang memiliki nama Khanim ini untuk hidup seorang diri. 

Perjuangannya untuk menghidupi tubuh kecilnya yang mulai kering dan hatinya yang mulai padam tanpa teman. Ini menjadi hal lain yang mungkin kurang bisa dirasakan oleh banyak orang. Tapi Yoshianto cukup puas dengan jerih payahnya memohon pada ketua RW untuk menjenguk dan mengajak Khanim untuk bisa berbaur dengan teman sebayanya dan mampu diterima dengan baik oleh masyarakat. 

Hatinya sungguh lega. Melihat anak itu sudah mulai bercanda dengan teman-temannya kembali. Kini tinggal dirinya yang mengawasi. Mas Jo sudah menyanggupi kalimat dari pak RW untuk senantiasa mengajak anak kecil itu berbaur dengan masyarakat sekitar dan turut bersenda gurau bersama. Rasanya cukup menyenangkan bagi Mas Jo yang masih melewati masa matangnya. 

Melihat di depan sana, anak kecil itu masih terlihat kikuk untuk pertama kalinya dengan anak-anak desa yang cukup nyleneh guyonannya. Sedang anaknya Rayhan —kakak Rea— selang satu tahun setengah itu menyangkal anak-anak desa yang sedang memperlihatkan gurauannya dengan Khanim. 

Kalimat kecilnya masih bisa didengar Jo, “kamu harus pelan-pelan, nanti Khanim tidak mengerti maksudmu.” Sangkalan itu justru membuat Jo tersenyum. 

Selain Khanim, Rayhan juga tampak seumuran dengannya menjelaskan dengan nada masih khas seperti anak yang tinggal di perkotaan. Meski dirinya sudah mulai melepaskan Rayhan untuk berteman akrab dengan mereka. Ada sebuah rasa lega yang tidak bisa dia jelaskan. Padahal belum lama ini Rayhan tidak tertarik dengan anak-anak desa ini. Ia bahkan tidak berniat untuk berbincang ataupun bertegur sapa. 

Baginya yang sempat mengalami perpindahan ini tentunya terdapat adaptasi ekstra yang memungkinkan untuk mengalami stress. Tapi untunglah keluarga kecilnya ini menikmati suasana baru yang memang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya. 

“Mas Jo!” Suara tinggi itu menyapa Yosi yang kini duduk di teras rumahnya mengamati anak-anak itu saling berbincang. Pak RW lantas mengucap salam dan turut menyaksikan permainan kecil sebagai perayaan datangnya Khanim dalam kehidupan muda mereka. Permainan yang sering disebut dengan kasti itu memerlukan kepiawaian dari pelakunya. Sedang tangan Khanim sangat lihai dalam mengayunkan tongkat, pukulannya mengenai bola berwarna cokelat yang kini sudah berlumur tanah dan bisa terbilang usang.

“Mereka semakin akrab saja.” Simpul Pak RW tersenyum melihat pergerakan anak-anak tak jauh dari mereka kembali mengayunkan tongkat dan berseru sesekali. Mereka tampak sangat menikmati permainannya. Yosi hanya mengangguk setuju dengan kalimat Pak RW. 

“Aku senang kau memberi kehidupan baru bagi Khanim setelah sekian lama, anak itu memang susah untuk ditemui. Kami tidak berani untuk memberikan banyak komentar pada kehidupannya setelah sang kakak meninggalkan kehidupan anak kecil itu." Simpul Pak RW dengan senyuman bangga diikuti anggukan dari Yosi. Dirinya juga senang mengetahui kehidupan Khanim yang dia abadikan dalam ceritanya. Setidaknya dia sudah tidak akan memberikan banyak komentar ngawur pada beberapa insan kedepannya. 

 

 

Tamat

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

PELADI MAKARTI

PENDATAAN PELAKU USAHA/ UMKM DI KALURAHAN PUTAT